BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran pernafasan, mulai dari hidung (saluran atas) sehingga alvoli (saluran bawah) termasuk saluran adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (anonim, 2007).
Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan nafas cepat dan nafas sesak, pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernafas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan menyebabkan kematian apabila tidak segera diobati. Usia balita adalah kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernafasan, kenyataan bahwa morbilitas dan angka mortalitas akibat ispa masih tinggi pada balita di Negara berkembang (Anonim, 2007).
Kesehatan yang kian mengkuatirkan di Indonesia adalah semakin banyaknya jumlah perokok yang berarti semakin banyak penderita gangguan kesehatan akibat merokok ataupun menghirup asap rokok (bagi perokok pasif) yang umumnya adalah perempuan dan anak-anak. Hal ini tidak bisa dianggap sepele karena beberapa penelitian memperlihatkan bahwa justru perokok pasiflah yang mengalami resiko lebih besar daripada perokok sesungguhnya (Dachroni, 2003).
Asap rokok yang dihisap perokok adalah asap mainstream sedangkan asap dari ujung rokok yang terbakar dinamakan sidestream. Polusi udara yang diakibatkan oleh asap sidestream dan asap mainstream yang sudah terektrasi dinamakan asap tangan kedua atau asap tembakau lingkungan. Mereka yang menghisap asap inilah yang dinamakan perokok pasif atau perokok terpaksa (Adningsih, 2003).
Terdapat seorang perokok atau lebih dalam rumah akan memperbesar resiko anggota keluarga menderita sakit, seperti gangguan pernafasan, memperburuk asma dan memperberat penyakit angina pectoris serta dapat meningkatkan resiko untuk mendapat serangan ISPA khususnya pada balita. Anak-anak yang orangtuanya perokok lebih mudah terkena penyakit saluran pernafasan seperti flu, asma pneumonia dan penyakit saluran pernafasan lainnya. Gas berbahaya dalam asap rokok merangsang pembentukan lendir, debu dan bakteri yang tertumpuk tidak dapat dikeluarkan menyebabkan bronchitis kronis, lumpuhnya serat elastin, dijaringan paru mengakibatkan daya pompa paru berkurang, udara tertahan di paru-paru dan mengakibatkan pecahnya kantong udara (Dachroni, 2002).
Sedangkan faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi, Asi eksklusif dan BBLR merupakan faktor yang dapat membantu mencegah terjadinya penyakit infeksi seperti gangguan pernafasan (Anonim, 2007).
World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun (Depkes, 2000 dalam Asrun, 2006).
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu, ispa juga sering berada pada daftar ke-10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survey mortalitas yang dilakukan oleh subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA atau pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008).
Penyakit ISPA termasuk jumlah penyakit yang tertinggi di puskesmas subulussalam. Menurut petugas kesehatan yang bekerja di puskesmas tersebut, dari tahun ke tahun penyakit ISPA menempati urutan yang pertama dari penyakit lainnya. Hasil wawancara kepada kepala puskesmas yang telah dilakukan oleh peneliti dari awal januari sampai bulan desember tahun 2009 jumlah persentase orang yang berobat ke puskesmas tersebut mencapai ± 68%.
Desa Cepu Indah adalah desa yang berada di kota Subulussalam. Desa tersebut suatu tempat objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Menurut informasi yang diperoleh dari warga setempat, banyak bayi dan balita yang terkena batuk flu, pilek, asma dan penyakit yang menyangkut saluran pernafasan lainnya dari 194 KK yang keseluruhan jumlahnya ialah 775 jiwa. Jumlah bayi dan balita sebanyak 182 jiwa dan yang terkena penyakit ISPA sebanyak 120 dan dapat dipersentasekan sebesar ± 62%. Berdasarkan latarbelakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Ispa Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
“Bagaimanakah pengetahuan masyarakat terhadap penyakit ISPA Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010 ?”.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat terhadap penyakit ISPA Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Pengetahuan masyarakat tentang tahu penyakit ISPA Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam tahun 2010.
b. Pengetahuan masyarakat tentang paham penyakit ISPA Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam tahun 2010.
c. Pengetahuan masyarakat tentang aplikasi penyakit ISPA Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam tahun 2010.
1.4. Manfaat Penelitian
a. Bagi responden
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit ISPA Di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam tahun 2010.
b. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang masalah penyakit ISPA dan menjadi bahan bacaan bagi seluruh mahasiswa/I Akper Yappkes Pemkab Aceh Singkil.
c. Bagi petugas kesehatan
Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahauan di bidang kesehatan. Disamping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.
d. Bagi peneliti
Bagi penulis merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan menambah wawasan pengetahuan.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. PENGETAHUAN
2.1.1. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman,rasa dan raba. Sebahagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
2.1.2. Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu artinya mengingat atau mengerti yang telah dipelajari sebelumnya termasuk kedalam pengetahuan sebelumnya. Yang termasuk kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali (reall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah (Notoatmodjo, 2003).
b. Memahami (comprehention)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjalankan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari (Notoatmodjo, 2003).
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengungkapkan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (Notoatmodjo, 2003).
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti, dapat menggambarkan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
e. Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam bentuk suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan dan sebagainaya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada (Notoatmodjo, 2003).
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan dustifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi dapat menanggapi terjadinya diare disuatu tempat. Dapat ditafsirkan sebab ibu-ibu tidak mau mengikuti program KB dan sebagainya.
2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Lukman (2005), pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya meliputi umur, intelegensi, lingkungan, sosial budaya, pendidikan, informasi dan pengalaman yang dikutip dari berbagai pendapat seperti diuraikan dibawah ini yaitu :
a. Umur
Singgih (1998) mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik. Akan tetapi, pada umur tertentu bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat ketika berumur belasan tahun. Selain itu Abu ahbami (2001) mengemukakan bahwa memang daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. Dari uraian ini maka dapat disimpulkan bahwa bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya. Akan tetapi, pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut, kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang.
b. Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan siri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal untuk berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai lingkungan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan (Khahyan, 1997).
c. Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan lingkungan. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi sesorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang (Nasution, 1994).
d. Sosial budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan (Nasution, 1999).
e. Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (1997), pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Menurut Wied Hary A (1996), menyebutkan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh. Pada umumnya, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuannya.
f. Informasi
Menurut Wied Hary A (1996), informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya tv, radio atau surat kabar, maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
g. Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang baik, pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu suatu cara memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengatahuan. Hal ini dilakukan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo, 1997).
2.1.4. Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku
Pengetahuan adalah domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Roger (dalam Notoatmodjo, 2005), sebelum seseorang mengadopsi perilaku tersebut baru adanya stimulus (objek), interest (merasa tertarik) terhadap stimulus (objek), evaluation (menimbang-nimbang)terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Trial yaitu objek mulai mencoba melakukan sesuatu yang sesuai dengan stimulus serta adoption yaitu subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Nanda (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang berkaitan dengan kurang pengetahuan (deficrent knowledge) terdiri dari : kurang terpapar informas, kurang daya ingat/hafalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi (Nanda, 2005).
2.2. Konsep Masyarakat
2.2.1. Pengertian
Masyarakat dalam arti luas adalah keseluruhan hubungan dalam hidup bersama dengan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa atau keseluruhan dari semua hubungan dalam hidup bermasyarakat. Dan dalam arti sempit masyarakat merupakan kelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya territorial, bangsa dan golongan (Noorkasiani, 2009).
Masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang swasembada, melebihi masa hidup individu normal dan merekrut anggota secara reproduksi bologis, serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya. Masyarakat, kelompok yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficiency), yang dibagi dalam tiga komponen : pengaturan diri, reproduksi sendiri dan penciptaan diri ((Badru jaman, 2008).
2.2.2. Unsur-Unsur Terbentuknya Masyarakat
Noorkasiani dalam sosiologi keperawatan, 2009. Ada beberapa unsur yang mempengaruhi masyarakat yaitu :
a. Adanya kelompok manusia dan berjumlah banyak
b. Telah berjalan dalam waktu yang lama
c. Bertempat tinggal dalam daerah tertentu
d. Memiliki aturan (undang-undang yang mengatur mereka).
2.2.3. Kriteria Masyarakat
Menurut Levi dalam Sunarto (2000), mengemukakan empat kriteria yang perlu dipenuhi agar suatu kelompok dapat disebut masyarakat yaitu :
a. Kemampuan bertahan melebihi masa hidup individu
b. Rekuitmen seluruh atau sebagian anggota melalui reproduksi
c. Kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama bersama
d. Adanya sistem tindakan utama bersama.
2.3. Konsep Ispa
2.3.1. Pengertian
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran pernafasan, mulai dari hidung (saluran atas) sehingga alvoli (saluran bawah) termasuk saluran adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (anonim, 2007).
2.3.2. Etiologi
Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti bakteri, virus, mikoplasma, jamur dan lain-lain. ISPA bagian atas umumnya disebakan oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan mikoplasma.
2.3.3. Tanda Dan Gejala
Kongesti nasal, sakit tenggorok, bersin-bersin, malaise, demam, menggigil, dan sering sakit kepala serta sakit otot, kadang kadang ada batuk. Gejala berlangsung 5-14 hari.
2.3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ispa
a. Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ispa. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak didalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis, pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6-10 tahun.
b. Ventilasi rumah
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernafasan.
2. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara.
3. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.
4. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.
5. Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal.
6. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.
c. Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati luas rumah 8m2. Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas.
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara, tingkat sosial dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini.
2. Faktor Individu Anak
a. Umur Anak
Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernafasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6-12 bulan.
b. Berat Badan Lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernafasan lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan dan pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernafasan, tetapi mengalami lebih berat infeksinya.
c. Status Gizi
Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh : umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukaan antara lain berdasarkan antopometri : berat badan lahir, panjang badan, tinggi, lingkar lengan atas.
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan anatara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Disamping itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadapa infeksi.
Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ispa dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama.
Vitamin A
Sejak tahun 1985 setiap enam bulan posyandu memberikan kapsul 200.000 IU Vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol.
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibody yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat. Karena itu usaha missal pemberian vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anak prasekolah seharusnya tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruskah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan sebaik-baiknya.
d. Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ispa yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ispa, diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi yang lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat.
Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi yang efektif sekitar 11% lemaitan pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% kematian pneumonia dapat dicegah.
3. Faktor Perilaku
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani Ispa sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari didalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.
Keluarga perlu mengamati serta mengetahui tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini pada balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.
Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu : perawatan penunjang oleh ibu balita; tindakan yang segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita; pencarian pertolongan pada pelayanan.
2.3.5. Pencegahan Ispa
a. Menjauhkan anak dari penderita batuk
b. Memberikan makanan bergizi setiap hari
c. Jagalah kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan anak
d. Berikan imunisasi lengkap
2.3.6. Klasifikasi ISPA
Dalam hal penentuan kriteria ISPA ini, penggunaan pola tatalaksana penderita ISPA adalah balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernafas. Pola tatalaksana penderita ini sendiri terdiri atas 4 bagian yakni pemeriksaan, penentuan ada tidaknya tanda bahaya, penentuan klasifikasi penyakit dan pengobatan juga tindakan.
Dalam penentuan klasifikasi, penyakit dibedakan atas dua kelompok, yakni kelompok untuk umur 2 bulan hingga kurang dari 5 tahun dan kelompok kurang dari dua bulan.
Secara anatomis yang termasuk infeksi saluran pernafasan akut :
ISPA atas : Rinitis, faringitis, Otitis
ISPA bawah : Laringitis, Bronchitis, bronkhiolitis, pneumonia.
2.3.7. Pengobatan Ispa
a. Pemberian cairan yang adekuat
b. Istirahat
c. Pencegahan menggigil
d. Dekongestan nasal aqueous
e. Vitamin C
f. Espektoran sesuai kebutuhan
g. Kumur air garam hangat dapat mengurangi nyeri tenggorok
h. Aspirin/asitaminofen.
BAB III
KERANGKA KONSEP
3.1. Kerangka Konsep
Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pendekatan sistem. Sistem adalah suatu bentuk hubungan antara unsur-unsur atau komponen-komponen yang saling berhubungan, saling bereaksi, bersifat abstrak, dapat dihayati dan digambarkan (Widjono, 2000). Dimana pendekatan sistem terdiri dari proses dan output secara tuntas, kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
INPUT PROSES OUTPUT
Skema 3.1. Kerangka konsep penelitian (Nursalam, 2003)
Dari skema 3.1. dapat diketahui bahwa yang menjadi input pada penelitian ini adalah masyarakat, dan prosesnya meliputi pengetahuan masyarakat tentang tahu penyakit ISPA, pengetahuan masyarakat tentang paham penyakit ISPA, pengetahuan masyarakat tentang aplikasi penyakit ISPA. Sedangkan hasil output dapat berupa baik, cukup, kurang.
3.2. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengetahuan masyarakat tentang tahu penyakit ISPA di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010.
2. Bagaimanakah pengetahuan masyarakat tentang paham penyakit ISPA di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010.
3. Bagaimanakah pengetahuan masyarakat tentang aplikasi penyakit ispa di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010.
3.3. Defenisi Operasional
No Variabel/ subvariabel Defenisi operasional Alat ukur Skala ukur Hasil ukur
Variabel
1 Pengetahuan masyarakat tentang penyakit ispa Segala sesuatu yang diketahui masyarakat tentang tahu penyakit ispa, paham penyakit ispa, aplikasi penyakit ispa pada tingkat/level (know) Kuisioner dalam bentuk multiple choice sebanyak 15 pertanyaan
Ordinal Baik : 76-100% Cukup : 56-75% Kurang : 0-55%
Subvariabel
2 Pengetahuan masyarakat tentang tahu penyakit ispa Segala sesuatu yang diketahui masyarakat tentang tahu penyakit ispa Kuisioner dalam bentuk multiple choice sebanyak 5 pertanyaan Ordinal Baik : 76-100% Cukup : 56-75% Kurang : 0-55%
3 Pengetahuan masyarakat tentang paham penyakit ispa Segala sesuatu yang diketahui masyarakat tentang paham penyakit ispa Kuisioner dalam bentuk multiple choice sebanyak 5 pertanyaan Ordinal Baik : 76-100% Cukup : 56-75% Kurang : 0-55%
4 Pengetahuan masyarakat tentang aplikasi penyakit ispa Segala sesuatu yang diketahui masyarakat tentang aplikasi penyakit ispa Kuisioner dalam bentuk multiple choice sebanyak 5 pertanyaan Ordinal Baik : 76-100% Cukup : 56-75% Kurang : 0-55%
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu penulis hanya menggambarkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit ISPA di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam Tahun 2010. pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Kemudian data yang diperoleh akan dianalisa secara deskriptif.
4.2. Populasi Dan Sampel
4.2.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo, 1993 dalam Setiadi 2007). Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam. Jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 194 KK yang ada di Desa Cepu Indah.
4.2.2. Sampel
Sampel adalah sebahagian dari keseluruhan dari objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 1993 dalam Setiadi 2007). Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan tehnik purposive sampling yaitu didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, beradasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Dengan kriteria masyarakat di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam. Adapun kriterianya adalah sebagai berikut :
Kriteria Inklusi : karakteristik umum subjek penelitian dari satu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti.
Kriteria Eksklusi : menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi krieria inklusi dari studi karena berbagai sebab antara lain (Nursalam, 2003)
Kriteria Inklusi
- Bersedia menjadi responden
- Bisa menulis dan membaca
- Bisa berbahasa Indonesia
- Dalam keadaan sehat
- Masyarakat yang tinggal di Desa Cepu Indah
Kriteria Eksklusi
- Tidak bersedia menjadi responden
- Tidak bisa menulis dan membaca
- Tidak bisa berbahasa Indonesia
- Dalam keadaan sakit
- Masyarakat yang tidak tinggal di Desa Cepu Indah
Besar sampel yang diambil sebanyak 66 KK sesuai dengan rumus yang ditemukan oleh Selovin (1960 dalam Notoatmodjo 2005).
Jumlah sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
n. N
1+N(d)2
n = 194
1+ 194 (10%)2
n = 194
1+ 194 (0,1)2
n = 194
1+ 194 (0.01)
n = 194
2,94
n = 66
Keterangan :
n : besar sampel
N : besar populasi
d : tingkat kepercayaan yang diinginkan
Berdasarkan pengukuran diatas dari jumlah populasi
4.3. Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada masyarakat di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam yang dilaksanakan pada bulan juni 2010.
4.4. Alat Pengumpulan Data
Adapun instrument atau alat-alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu berupa kuisioner berisi 15 pertanyaan multiple choice yang digunakan terdiri dari beberapa bagian yaitu :
1. Bagian A yang berisi data demografi ini berupa identitas responden, meliputi kode responden, umur dan jenis kelamin responden.
2. Bagian B merupakan lembaran pertanyaan yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit ISPA.
a. Mengukur pengetahuan masyarakat tentang penyakit ISPA yang terdiri dari 15 pertanyaan multiple choice. Bila jawaban benar, maka nilainya 1 dan apabila menjawab salah nilainya 0. Jadi, jika dapat menjawab semua dengan benar nilai maksimalnya 15 dan nilai minimalnya 0.
b. Subvariabel pengetahuan masyarakat tentang tahu penyakit ispa yang terdiri dari 5 item pertanyaan yaitu 1-5. bila jawaban benar maka nilainya 1 dan bila jawaban salah , maka nilainya 0. jadi apa bila menjawab semua dengan benar nilai maksimalnya 5 dan nilai minimalnya 0.
c. Subvariabel pengetahuan masyarakat tentang paham penyakit ISPA yang terdiri dari 5 item pertanyaan yaitu 1-5. bila jawaban benar maka nilainya 1 dan bila jawaban salah , maka nilainya 0. jadi apa bila menjawab semua dengan benar nilai maksimalnya 5 dan nilai minimalnya 0.
d. Subvariabel pengetahuan masyarakat tentang aplikasi penyakit ispa yang terdiri dari 5 item pertanyaan yaitu 1-5. bila jawaban benar maka nilainya 1 dan bila jawaban salah , maka nilainya 0. jadi apa bila menjawab semua dengan benar nilai maksimalnya 5 dan nilai minimalnya 0.
4.5. Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang penyakit ISPA di Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam.
Adapun prosedur pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan Pengumpulan Data
Persiapan pengumpulan data dilakukan melalui prosedur administrasi setelah mendapat izin dari :
a. Pudir 1 Akper Yappkes Aceh Singkil
b. Kepala Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam.
2. Tahap Pengumpulan Data
Setelah mendapatkan izin dari pudir 1 Akper Yappkes Aceh Singkil dan kepala Desa Cepu Indah Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam, peneliti langsung menemui calon responden dan melakukan pengumpulan data, peneliti memperkenalkan diri dan meminta kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian dengan cara menandatangani lembaran persetujuan. Selanjutnya kuisioner dibagikan kepada responden dan diberikan waktu selama 30 menit untuk mengisi kuisioner sebanyak 15 pertanyaan.
Lembaran pertanyaan yang telah diisi oleh responden akan dikumpulkan lagi kepada peneliti untuk diperiksa kembali kelengkapan jawabannya. Bila terdapat jawaban yang kurang lengkap, maka peneliti meminta langsung kepada responden untuk melengkapi data yang kurang pada saat itu juga. Setelah dilakukan penelitian, peneliti mengusapkan terima kasih secara lisan atas partisipasi responden dalam pelaksanaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan selama 7 hari. Setelah semua terkumpul, peneliti melaporkan kepada Kepala Desa untuk memperoleh keterangan karena telah melakukan pengumpulan data dan penelitian.
4.6. Tehnik Pengolahan Data Dan Analisa Data
Setelah data berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya yang dilakukan penulis adalah pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Editing
Setelah kuisioner dibagikan, penulis melakukan pemeriksaan terlebih dahulu dari hasil jawaban responden. Apabila ada yang kosong atau tidak diisi, maka akan dikembalikan lagi kepada responden untuk melakukan pengisian kembali. Pada saat diperiksa setelah kuisioner diisi oleh responden yang tidak mengisi data demografi, maka penulis mengembalikan kembali kepada responden untuk diisi ulang.
2. Coding
Setelah selesai editing, penulis melakukan penandaan pada masing-masing jawaban dengan kode tertentu dari responden yang berjumlah 66 KK yaitu memberi nomor kuisioner yang telah dijawab responden mulai dari 1-66 untuk mempermudah pada saat transfering.
3. Transfering
Mentransfer total mulai dari jawaban keseluruhan responden yang berjumlah 66 KK kedalam tabel, dengan nilai rata-rata yang telah diteliti.
4. Tabulasi
Langkah selanjutnya data yang di peroleh dikelompokkan dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi dan narasi.
4.6.1. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini digunakan tehnik deskriptif. Untuk menghitung tiap-tiap variabel dengan menggunakan rumus rata-rata dikategorikan dalam kriteria “baik” bila 76-100% “cukup” 56-75% dan “kurang” < 56% (Budiarto, 2001). Kemudian dilakukan persentase dari variabel dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
P = f i x 100%
n
Keterangan :
P : persentase
f i : frekuensi teramati
n : jumlah responden
Tidak ada komentar:
Posting Komentar